Pandangan Pertama



Oleh : Dora Febrina


"Ternyata begini rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama." gumam Lisa seraya memainkan ujung rambutnya

Gelisah, menunggu, gembira, tertawa, bertanya-tanya. Semua campur aduk buyarkan sederetan agenda dan segudang rencana.
"Katanya nggak bakalan jatuh cinta. Apa itu cinta, makan itu cinta. Duh yang lagi jatuh cinta, senangnya." ucap lala berbinar-binar menggoda sahabatnya itu

Lisa wanita energik yang menghabiskan hari-harinya dengan segudang kesibukan. Seolah ia akan hidup seribu tahun lagi. Tak pernah mengenal kata lelah, selalu ada aktifitas yang menguras tenaga dan pikirannya.
Lisa si kepala batu, begitu teman-teman menjulukinya.
Walau dibalik watak kerasnya, ia adalah wanita yang baik, parasnya cantik, budinya baik. Tulus menyayangi dan selalu ingin berbagi.
Tak heran jika teman-temannya selalu bertanya, kapan ia akan membuka hatinya. Karena ia pantas dicintai.

"Kamu baik paras dan hatimu Lis, buka hatimu. Mau sampai kapan kamu bersembunyi dibalik segudang aktifitasmu?" ucap Lala lirih

Ruang di cafe itu menjadi sunyi seolah ikut merasakan keprihatinan Lala yang mendalam karena kepeduliannya.
Lala menghabiskan es jeruk seraya berpindah duduk tepat disamping Lisa dan berbisik "Aku tau bagaimanapun kamu berusaha riang dan fokus dengan pekerjaanmu, ada ruang kosong dihatimu."

Mereka berdiri lalu berjalan meninggalkan cafe, kali ini tidak berdampingan seperti biasanya. Berpisah ditempat parkir tanpa kata-kata, hanya lambaian tangan tanpa makna dan hampa.

Selesai membersihkan badan Lisa terduduk didepan meja rias diruang tidurnya
"Kenapa begitu sulitnya bagi mereka untuk menghargai keputusanmu. Kamu bahagia dengan hidupmu, apa yang salah dengan keputusanmu?" tanya Lisa pada wanita di dalam cermin

Waktu menunjukkan pukul 01.34
Derap langkah kaki beralaskan sandal hello Kitty berwarna pink, menuju tempat tidur memecahkan keheningan pagi dini hari

Matanya tak kunjung terpejam, asik memandangi langit-langit dikamar mungil bernuansa pink penuh dengan ornamen hello Kitty, pikirannya kembali pada percakapannya dengan Lala sore kemarin
'Mereka tidak benar-benar memahami aku. Mereka tidak tau luka hati ini' bathinnya

Waktu terus berjalan, kepalanya penuh dengan date line pekerjaan.
Ruang 4X6 itu semakin dingin. Lisa menarik selimutnya berusaha memejamkan mata.

'Ah sudahlah, apa yang memang menjadi milikku atas kehendak-NYA, maka akan jadi milikku' bathin Lisa disela-sela dzikirnya berusaha memejamkan mata

"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia".
(QS Yasin ayat 82).


Burung-burung bernyanyi bersautan menyemangati sabtu paginya. Cahaya mentari bersinar cerah janjikan harapan.
Lisa sudah siap dengan kostum lari pagi, tak satu masalahpun ia biarkan bersemayam dalam hati. 
Masih bisa menghirup udara pagi, menikmati O2 yang berlimpah di alam semesta, satu alasan terindah atas rasa syukurnya pagi itu.

"Lagi-lagi guguk itu, peliharaan siapa sih itu. Mengganggu pejalan kaki tauuu !" dahinya mengerenyit setengah mengumpat

Pengalaman dikejar anjing pada masa kanak-kanak membuat Lisa takut jika bertemu dengan binatang berkaki empat yang gonggongannya memekakkan telinga.
"Ayo mbak jalan terus, saya temani." suara bariton membuyarkan kepanikannya

Lisa menoleh agak menengadah ternganga. matanya tak berkedip "Indahnya ciptaan-MU ya Robb.."
"Ayo mbak, nanti matahari baiknya keburu pergi lo." ucap pria itu dengan senyum manisnya
Mulutnya terkunci, wajahnya kaku bagai kanebo kering. Terus berjalan menjauh dari anjing yang wajahnya jauh dari ramah.

Tiba dipersimpangan, pria tersebut berhenti "Saya belok kesini ya mbak, nanti hati-hati saat kembali. Jangan panik, In Sha Allah nggak akan dikejar."
"Terima kasih ya." Lisa membalas senyuman pria itu

Masih setengah terperangah Lisa melanjutkan jalan paginya, keluar dari rute yang biasa ia lalui.
"Ah bodohnya aku, kenapa tidak kuajak bicara. Tanya ini itu sok kenal sok dekat macam anak jaman now. Namanya pun aku tidak tau." sesal Lisa
"Puk ... " bahu kanan Lisa kejatuhan benda berat dan terasa hangat.
Diberanikannya menoleh ke bahu. Ada tangan kekar menyentuh dengan lembut bahu kanannya, Lisa menengadah tersenyum, semakin manis dengan binar bola mata bulatnya yang jernih.
"Boleh aku minta nomer telephonemu?" ucap Pria yang melindunginya pagi itu
"Terima kasih ya, nanti aku hubungi kamu." ucapnya lagi dengan lembut

"Di negeri yang baik, airmata tak pernah dihapus oleh tisu, tapi oleh tangan kekasih."



Saling melambaikan tangan. Lisa berlalu melanjutkan jalan paginya
"Hal yang tidak aku mengerti, dari mana dan karena apa. Semua terasa begitu menenangkan Hati." ucap Lisa dalam hati
Langkahnya semakin bersemangat. Senyuman sumringah menghiasi wajah ovalnya.
Ratusan alasan dicari, ribuan sebab dikaji, jutaan pertanyaan menghampiri, tiada jawaban terurai.
Ah sudahlah "Aku Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama."



*_Selesai_*



The Prairie

Oktober, 17

You Might Also Like

0 comments