Kakek Nenek versus Orang Tua




Maraknya pemberitaan mengenai LGBT, pelecehan sexual, bencana alam, menambah kekhawatiran orang tua.

Pertanyaannya, haruskah anak kita cekoki nasihat bertubi-tubi serta larangan yang condong mengkerdilkan mental?

Saya orang tua tunggal dengan dua anak. Si sulung laki-laki 15 tahun, si bungsu 12 tahun. Hubungan kami sangat dekat, tidak melulu terikat aturan antara Ibu dan anak melainkan menjadikan mereka sahabat, rekan dalam pekerjaan rumah tangga bahkan penasihat saya.

Kami membiasakan saling terbuka, menerima masukan, bertanggung jawab, jujur dan berani mengakui kesalahan. Kami dekat secara emosional, enggan berjauhan dan masih menyenangi pergi bersama.

Intinya saya ‘mengenal’ mereka.



Contoh sikap anak-anak :

“Mi, aku kerja kelompok di rumah Farhan, Ada ibunya. Ini nomor ponsel Farhan.”
“Oke, jam berapa selesainya?”
“Jam 4.”

Kurang lebih pukul 17.00, Uda (panggilan Abang untuk orang Minang) sudah sampai di rumah.


Dengan izin dan pulang tepat waktu, bagi saya itu hal yang patut dihargai dan pantas dipuji. 

Yang sangat mengganggu pikiran adalah campur tangan orang tua dengan kekhawatiran yang berlebihan. Tiap waktu menelfon memastikan anak-anak sudah di rumah, saat hujan deras memerintahkan agar anak tidak perlu masuk sekolah, belum lagi serentetan cerita  kriminal dan kenakalan remaja tiap mereka izin keluar rumah. 
Kasih sayang yang ‘menjauhkan’, anak-anak sangat sulit diajak ke rumah kakek neneknya.



Mata saya hanya dua, raga saya tidak dapat di foto kopi, apa yang bisa kita lakukan ?

  1. Mengandalkan Mata Allah dengan doa kita
  2. Berikan kepercayaan dan latih tanggung jawab
  3. Bekali ilmu, baik Agama maupun pengetahuan
  4. Penerapan hal-hal yang membaikkan akhlak, etika dan tata krama


You Might Also Like

27 comments

  1. Memang sebagai orangtua serba salah ya mba. Kalau anak terlalu dilepas kebablasan, terlalu protektif jadi manja dan nggak mandiri. Apalagi kalau kakek nenek juga turun tangan. Mungkin khawatir dengan kondisi zaman. Betul sekali, penting membekali anak dengan agama dan pend. Thanks mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kasih mbak Saras, Doa, bekal agama, pendidikan, kasih sentuhan-sentuhan realita, asah rasa syukurnya. kepeduliannya, etikanya, tata krama. semua dilakukan real time mbak, saat nampak, saat terjadi. mereka juga lihat bagaimana kita perlakukan orang lain, dan yang butuh dijaga banget, jangan sampai menyentuh harga diri mereka saat kita menegur, semisal dihadapan banyak orang atau dekat teman-temannya.

      banyak lagi mbak Saras, gak ada habisnya kalau bicara tentang anak.
      tapi menjadi ringan, jikalau kita menerapkannya dalam keseharian.

      Terima Kasih hadirnya mbak Saras.

      Delete
  2. Gendhuk saya mau pra akil balig ni , mbak.. baru mau lulus sd sih, tapi saya amati gayanya sudah mulai menuju remaja. hmmm.. karena saya sehari hari mengajar sma, usia anak remaja, kok saja malah jadi ikut-ikutan kakek neneknya-jadi parno an. soalnya ngeri mbak lihat pengalaman-pengalaman di sekolahan. Haduh gimana ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mbak Dewi,

      qi qi qi, iya ya mbak. Sedih kalau lihat pemberitaan soal remaja sekarang, rasanya miris, sia-sia sekali.

      sekedar berbagi pengalaman mbak dewi, yang pertama, pegang keyakinan bahwa 'saya mengenal anak saya'

      anak gadisku sekarang kelas 1 smp. saat kelas 6 SD, dia bilang suka sama si B, lalu saya tanya "kenapa kamu suka dia?"

      dia jawab "orangnya rapi, bersih. pakai bajunya juga."
      lalu saat aku jemput dia ke sekolah keesokan harinya, aku tanya "mana si B?"
      lalu dia kasih tau.
      aku kasih komentar "iya, manis ya anaknya."
      selama di perjalanan, aku gak melarang dia, lebih kepada beremphaty bahwa aku juga pernah puber dan merasuki rasa yang aku alami saat itu. tentunya akan sangat marah dan anti pati kalau mendapat wejangan yang berlebihan.

      cukup ngobrol ringan, menyetejui penilaian gadisku akan si B, lalu memberi masukan, pilih yang pintar. yang baik. yang sholeh karena kita akan menjadi seperti teman kita. dengan siapa kita berteman, itulah diri kita.

      jadi gak aku selipkan ribuan nasihat, yang nyambungnya kesana kemari, sementara pikiran mereka belum sepanjang kita.

      jaga, agar kitalah tempat ternyaman bagi mereka.

      tiada maksud menggurui ya mbak Dewi, kita berbagi pengalaman, semoga sedikit mencerahkan.

      terima kasih hadirnya mbak Dewi.

      Delete
    2. wah, thanks sharingnya mbak Dora. Belum lama ini putri saya juga mulai keceplos soal teman sekelas cowok yang tuing tuing bikin dia suka xixixi... saya waktu itu bingung mau respons bagaimana.
      Pokoknya tidak bla bla menggurui gitu ya kuncinya. Ditunggu pengalaman-pengalamannya dengan abg lainnya.

      Delete
    3. Sama-sama mbak Dewi, saling sharing kita mbak, saling belajar. Dalam hal ini, aku berusaha menjadi anak seusia mereka, anak usia 13 tahun, yang jalan pikirannya pun belum sematang dan sejauh kita.

      Delete
  3. Alhamdulillah, semua anak2 saya tanpa intervensi kakek-neneknya. Mereka hny doain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya mbak Ratu, jadi mereka tidak bingung, kemana mereka harus manut.

      Delete
  4. Memang komunikasi dengan kakek nenek sering lebih sulit y mb.. harus ada kesepakatan dengan anak 😊

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah anak-anak saya juga tidak ada campur tangan nenek dalam mengurusnya. Kecuali waktu anak pertama lahir saya di rumah ibu. Hingga umur satu tahun, saya lalu ikut suami yang dinas di luar daerah. Begitu juga dengan yang kedua dan tiga semua besar di rantau. Setelah lulus SD mereka saya masukkan di pondok. Tapi hal itu tidak membuat anak-anak jauh dari neneknya, malah mereka sering kangen. Maka dalam mengasuh anak hendaknya kita sendiri yang menjalankan tanpa ada campur tangan orang lain termasuk nenek. Agar jika ada apa-apa tidak ada yang dituduh menjadi penyebabnya.

    ReplyDelete
  6. iya mbak Nitha, saking sayangnya. hingga ada hal-hal yang sudah jadi kebijakan kita, justru dilanggar, anak jadi punya pelarian / perlindungan. kalau berlarut mereka jadi menggampangkan.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih sharingnya, Mak.
    Bermanfaat bgt apalagi anak sulungku juga udah mulai gede

    ReplyDelete
  8. Menurut saya tidak selamanya campur tangan kakek dan nenek itu tidak baik, itu adalah salah satu bentuk perhatian dan rasa sayangnya kepada anak cucunya, kalaupun dirasa ada yang kurang pas tinggal dikomunikasikan saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Bunda, kasih sayang mereka luar biasa, Alhamdulillah dengan sabar, akhirnya bisa mengkomunikasikan dengan kedua orang tua.

      Tidak semua campur tangan Kakek nenek itu tidak baik, dalam hal ini aku menekankan pada masalah perlindungan yang teramat sangat berlebihan.

      Tidak bisa juga dipukul rata, karena Karakter kakek nenek dari masing-masing orang pun berbeda. Kebetulan kakek nenek dari anak-anakku dalam beberapa hal, cenderung berlebihan, sehingga aku menemukan indikasi rasa tidak percaya diri di anakku. Sampai akhirnya aku memutuskan pindah rumah, namun tetap dalam satu perumahan.

      itupun anak-anak suliiiiit sekali untuk diajak berkunjung.

      Dengan berikan pengertian, Alhamdulillah mereka lebih melihat 'Kebaikan' kakek neneknya dan memaklumi kekhawatiran beliau yang sangat berlebihan.

      Sebagai catatan mbak, hanya anak-anakku yang dekat secara emosional sama kakek neneknya, karena aku tidak pernah bosan, memasukkan pengaruh positif kepada mereka, bagaimanapun kasih sayang orang tua (kakek nenek) sangat berharga dan tak tergantikan.

      Terima kasih sudah hadir Bunda

      Delete
  9. Menurut saya tidak selamanya campur tangan kakek dan nenek itu tidak baik, itu adalah salah satu bentuk perhatian dan rasa sayangnya kepada anak cucunya, kalaupun dirasa ada yang kurang pas tinggal dikomunikasikan saja.

    ReplyDelete
  10. penting bgt mengenal karakter anak . karena kita bisa menentukan cara agar bisa menangani masalah pada tiap anak dengan cara yg memang pas buat mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mak Weedee, ibarat mau mencuci, gak tau apa yang mau dicuci, entah tangan, baju, piring atau sepatu ... masing-masing ada sabun khusus untuk mencucinya

      Delete
  11. Makasih bun sharingnya, ponakan saya di urus sama neneknya karena ibunya baru saja melahirkan. Wah, ini pelajaran banget buat kakak saya nih. Nanti saya share ke beliau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kasih Bunda, kasih sayang mereka luar biasa, Alhamdulillah dengan sabar, akhirnya bisa mengkomunikasikan dengan kedua orang tua.

      Tidak semua campur tangan Kakek nenek itu tidak baik, dalam hal ini aku menekankan pada masalah perlindungan yang teramat sangat berlebihan.

      Tidak bisa juga dipukul rata, karena Karakter kakek nenek dari masing-masing orang pun berbeda. Kebetulan kakek nenek dari anak-anakku dalam beberapa hal, cenderung berlebihan, sehingga aku menemukan indikasi rasa tidak percaya diri di anakku. Sampai akhirnya aku memutuskan pindah rumah, namun tetap dalam satu perumahan.

      itupun anak-anak suliiiiit sekali untuk diajak berkunjung.

      Dengan berikan pengertian, Alhamdulillah mereka lebih melihat 'Kebaikan' kakek neneknya dan memaklumi kekhawatiran beliau yang sangat berlebihan.

      Sebagai catatan Bunda, hanya anak-anakku yang dekat secara emosional sama kakek neneknya, karena aku tidak pernah bosan, memasukkan pengaruh positif kepada mereka, bagaimanapun kasih sayang orang tua (kakek nenek) sangat berharga dan tak tergantikan.

      Terima kasih sudah hadir Bunda

      Delete
  12. Yang point satu masyaAllah ssring terlupa.. .mengandalkan mata Allah lewat doa.. iya doa orangtualah sebaik baik penjaga, disamping mendidik anak dengan ilmu juga teladan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bunda, kita punya keterbatasan, berusaha yang terbaik, berdoa sepanjang waktu.

      Terima kasih hadirnya Bunda

      Delete
  13. Saya suka tips nomer 1. Kalimatnya jleb banget deh. Makasih sharingnya...

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah, saling sharing, saling belajar kita Bun

    ReplyDelete
  15. aduh..aduh..kok merasa tersindir ya. aku banget suka bawel habis suka khawatir sih. terimakasih ya pengalamannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah, maaf Bunda Yanti, gak ada maksud qiiq qii qii
      versi aku soalnya amat sangat teramat Bun, jadi jujur, sangat mengganggu.
      semoga manfaat ya Bunda

      Delete